Strategi 5. Formasi Pasukan

MANAJEMEN STRATEGI
DALAM BHARATA YUDHA
Memenangkan Tanpa Mengalahkan

COLLECTIE TROPENMUSEUM Wajangfiguur van karbouwenhuid voorstellende een pauzeteken TMnr 4551-27.jpg

Oleh :
SUDARMAWAN JUWONO

Formasi Pasukan 



Strategi Lainnya : Kearifan Strategi Dalam Bharatayudha

 

Dalam peperangan diperlukan gerakan pasukan yang teratur dan memiliki tujuan serta pola yang jelas. Gerak pasukan yang terkendali disebut sebagai manuver. Pada masa itu para pemimpin perang telah mengenal berbagai siasat atau manuver pasukan. Ada beberapa siasat perang yang digunakan antara lain :

  1. Wukir Jaladri : Samudera Gunung
Pada peperangan hari pertama pasukan Kurawa dipimpin Resi Bhisma menggunakan formasi Wukir Jaladri. Formasi Wukir Jaladri atau samudera gunung-gunung adalah formasi yang menggerakkan pasukan laksana lautan gunung. Gunung-gunung sebagai pilar-pilarnya bergerak membanjiri medan pertempuran menghadang lawan. Siasat ini memang sangat tepat digunakan oleh Kurawa yang memiliki pasukan lebih besar. Pada perang hari pertama, ditujukan untuk menggentarkan moral pasukan musuh yang berjumlah lebih kecil. Cara-cara menakuti lawan dengan mengerahkan seluruh sumber daya dan bersikap frontal. Para pemimpin Astina mengharapkan pasukan Pandawa akan gentar serta salah tingkah. Mereka mengharapkan dapat memastikan kemenangan.

Karakter formasi ini adalah pameran pasukan yang besar atau sumber daya yang melimpah, pertarungan frontal dan terbuka. Bagi pihak yang memiliki pasukan dan sumber daya besar, tindakan untuk langsung menyerbu pasukan akan memberi pelajaran pada pihak yang lebih kecil serta memancing reaksi mereka. Namun jangan salah menerapkan menerapkan siasat ini untuk kondisi pasukan yang lebih sedikit karena sama dengan bunuh diri.
Dahulu pada tahun 1950-an ketika terjadi perang Korea, pasukan Amerika Serikat menghadapi apa yang disebut strategi gelombang manusia dari tentara pembebasan Cina (Republik Rakyat Cina). Cina pada masa itu mengandalkan jumlah pasukan yang besar untuk melawan pasukan lawan yang relatif lebih besar.

  1. Supit Urang atau Makarabyuha
Formasi perang Supit Urang digunakan Pandawa sebagai gelar perang yang mengutamakan kecepatan mobilitas pasukan. Siasat ” supit udang ” adalah siasat perang yang menewaskan Abimanyu. Saat itu Abimanyu sebagai sungut yang seharusnya tidak bergerak terlampau jauh. Sebagai sepit bagian kanan adalah Drestajumena dan Gatotkaca sepit kiri. Setyaki sebagai mulut udang dan Puntadewa sebagai kepala.

  1. Garuda Yaksa
Formasi Garuda Yaksa atau burung Garuda Melayang adalah strategi menggerakkan pasukan yang memiliki mobilitas tinggi. Pada suatu ketika Pandawa mengatur pasukannya dengan menggunakan siasat Garuda Yaksa atau Burung Garuda Melayang. Sebagai paruh adalah Arjuna sebagai senapati. Di belakang kepala kedudukan Prabu Drupada. Bagian sayap kanan adalah Drestajumena dan bagian kiri adalah Werkodara. Bagian tengkuk Prabu Yudistira. Sedangkan bagian belakang adalah Arya Setyaki.

  1. Bajrabyuha atau Brajalinungid
Formasi Brajalinungid atau Wajrabyuha atau dalam bahasa Sansekerta adalah formasi jarum. Braja Linungid adalah formasi yang berbentuk tombak. Formasi ini digunakan untuk menggempur formasi pasukan yang lebih besar dan bergerak cepat. Formasi ini pertama kali digunakan Pandawa pada hari pertama untuk menandingi formasi Wukir Jaladri atau samudera gunung-gunung.

  1. Formasi Wulan Tumanggal
Formasi perang Wulan Tumanggal ini menggambarkan bulan sabit. Gerak pasukan dalam siasat peran ini mengarahkan pada pengepungan musuh. Mobilitas pasukan terletak pada kedua ujung lancipnya yang siap menghimpit kekuatan musuh yang menyerang. Dalam perang hari ketiga, formasi bulan sabit ini digunakan Pandawa dalam menghadapi formasi Garuda Yaksa yang dikendalikan oleh Resi Bhisma. Formasi ini selintas mirip dengan Garuda Yaksa karena dua ujungnya bertemu. Perbedaannya formasi bulan sabit bersifat menjepit dan banyak bersifat aktif.

  1. Formasi Dirada Meta
Formasi perang Dirada-Meta adalah gelar perang yang sangat menakutkan. Dirada Meta adalah gajah yang sedang marah. Siasat perang yang digunakan Kurawa saat menghadapi Pandawa. Prabu Duryudana berada di tengah didampingi Jayadrata. Adipati Karna dan Kurawa sebagai gading. Pandita Durna sebagai kepala sedangkan Prabu Bogadenta menjadi belalai. Dalam siasat ini kekuatan Kurawa tidak terkalahkan.

  1. Formasi Gilingan Rata atau Cakra Byuha
Formasi Gilingan Rata adalah gelar perang yang dilakukan oleh Kurawa dengan mengandalkan kekuatan pasukan yang besar. Kurawa menggunakan siasat ini saat dipimpin oleh Prabu Salya. Siasat perang ini mengandalkan kecepatan gerak dan pengerahan pasukan secara besar-besaran. Peperangan ini mengandalkan kekuatan perang yang besar untuk menggilas musuh yang jauh lebih kecil.

Penggunaan siasat tidak menjamin pihak yang menggunakannya unggul dalam pertempuran namun sesungguhnya terletak pada pola pergerakan pasukan. Jenis jenis pasukan yang digunakan masing masing pihak beraneka ragam. Pasukan berkuda memiliki keandalan untuk bergerak. Pasukan gajah adalah pasukan untuk menyerbu dan menabrak pasukan berkuda maupun infanteri berjalan kaki. Keberadaan gajah laksana benteng yang kukuh tidak mampu tertembus oleh serangan infanteri maupun kaveleri berkuda. Sedangkan pasukan infanteri merupakan perintis yang melanjutkan peperangan setelah didahului pasukan kaveleri. Penamaan formasi sendiri didasarkan bentuknya yang mengambil ciri dari unsur-unsur alam. Ada beberapa formasi perang yang dipakai oleh Pandawa maupun Kurawa. Pertimbangan dalam memilih formasi perang adalah : (a) Jumlah pasukan, (b) Mobilitas pasukan, (c) Strategi lawan. Pada peperangan Bharata Yudha baik kedua pasukan menggunakan formasi perang yang berbeda-beda menyesuaikan strategi lawan. Manajemen dimaksudkan mengatur posisi atau kedudukan sehingga dapat memperoleh koordinat tepat guna menyerang lawan.

Penggunaan Berbagai Strategi
  1. Dua Garuda Bertempur
Mengimbangi lawan dengan formasi yang sama adalah didasarkan pada strategi mengadu ketika kekuatan berimbang. Pada suatu ketika pihak Pandawa menggunakan gelar perang sama mengimbangi Kurawa yang menggunakan Garuda Nglayang. Nampak pada pertempuran hari kedua ini, kekuatan Pandawa bertumpu pada Arjuna dan Bimasena. Sedangkan kepala burung adalah Prabu Drupada. Sedangkan pihak Astina juga menggunakan formasi Garuda Nglayang dengan kepala adalah Prabu Salya. Patih Arya Sengkuni sebagai kepala burung dan Resi Bisma sayap kanan serta Resi Durna sayap kiri. Formasi pasukan Pandawa serta semangat kedua pucuk pimpinan tersebut berhasil mengacaukan Kurawa. Beberapa saudara Kurawa adik Prabu Duryudana berhasil ditewaskan Bimasena dan Gatotkaca. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan Pandawa yang memiliki pasukan jauh lebih kecil.

  1. Tombak Menghentikan Roda
Pasukan Kurawa menggunakan gelar perang Cakrabyuha yang menakutkan dan nyaris tidak tertembus oleh pasukan Pandawa yang menggunakan gelar perang Brajalinungid. Abimanyu sebagai ujung tombak berfungsi menembus pasukan lawan terpancing oleh keinginan untuk menembus benteng Cakrabyuha. Akibatnya Abimanyu menerobos masuk merangsek pasukan Kurawa. Siasat Abimanyu berhasil memporakporandakan pasukan Kurawa namun fatal baginya. Abimanyu tidak bisa keluar dari kepungan dan akhirnya tewas dikeroyok Kurawa yang dipimpin oleh Jayadrata dan Burisrawa.


Previous
Next Post »