Strategi 2. Mengikat Loyalitas

MANAJEMEN STRATEGI
DALAM BHARATA YUDHA
Memenangkan tanpa Mengalahkan

COLLECTIE TROPENMUSEUM Wajangfiguur van karbouwenhuid voorstellende een pauzeteken TMnr 4551-27.jpg

Oleh :
SUDARMAWAN JUWONO


Mengikat Loyalitas 




Adipati Karna raja Awangga dikenal sebagai panglima dan pejuang yang sangat tangguh yang dimiliki kubu Astina. Kehadirannya di medan perang sangat ditakuti Pandawa karena terbukti mampu mengimbangi kemampuan Arjuna. Alasan utama Karna mengabdikan diri dan setia pada Duryudana adalah karena Kurawa telah memberikan penghormatan yang tidak diperoleh dari orang lain termasuk ibunya sendiri. Kehormatan apa yang diberikan Duryudana pada Karna. Penghormatan yang diberikan antara lain : (1) Status sebagai seorang satria, (2) Pengakuan mengenai kemampuannya menggunakan senjata, (3) Kepercayaan dengan memberi kedudukan sebagai raja. Penghargaan tersebut bertepatan dengan kebutuhan dirinya mencari jati diri. Bila hal tersebut tidak dilakukan Duryudana maka Kurawa tidak akan memperoleh senapati yang unggul.

Rahasia Memikat Adipati Karna
Kita bisa membandingkan dengan kisah Sumantri yang kemudian diangkat menjadi Patih Suwanda dalam kisah Arjuna Sasrabahu. Sumantri sangat menginginkan mengabdi pada Prabu Arjuna Sasrabahu. Setelah diangkat menjadi Patih Maespati, maka Sumantri menjadi seorang yang sangat loyal terhadap negara. Ketika negara ini diserbu musuh dari Alengka, sementara sang raja sedang berhalangan maka Sumantri tidak ragu-ragu mempertahankan kedaulatan Maespati sampai gugur.

Kisah ini serupa dengan Alibasah Sentot Prawirodirjo yang baru berusia 18 tahun ketika bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Kemampuan Sentot ini sangat mengagumkan bahkan nyaris tidak terkalahkan sangat mendukung gerak pasukan Diponegoro. Apa yang menyebabkan Sentot menjadi sangat loyal di antaranya adalah kepercayaan yang diberikan pada dirinya oleh Pangeran Diponegoro. Sang pemimpin tidak ragu-ragu memberikan kepercayaan serta wewenang untuk pada Sentot yang masih muda untuk memimpin pasukan. Darah muda Sentot terpanggil untuk berprestasi serta mendapatkan kepercayaan yang lebih tinggi sehingga dirinya harus berprestasi lebih baik.

Sebaliknya ancaman tidak berbuah efektif, kisah Adipati Ukur yang diperintahkan oleh Sultan Agung memerangi orang-orang Belanda di Batavia adalah contoh yang tepat. Penguasa Priangan ini menjalankan tugas menyerang kubu Belanda secara gigih namun kekurangan senjata serta keunggulan pasukan musuh menyebabkan kegagalan. Adipati Ukur yang mengalami kegagalan menghadapi kenyataan bahwa dirinya dapat dihukum mati karena kegagalannya sehingga memutuskan untuk melakukan pembelotan. Pendekatan ancaman yang digunakan Mataram tidak tepat karena memperlakukan bawahan sebagai obyek belaka. Pendekatan manajemen dengan konsep reward and punishment sudah tidak relevan lagi. Seharusnya manajemen menggunakan cara Duryudana menaklukkan Adipati Karna yaitu memberi kepercayaan dan tanggung jawab.

Strategi memberikan reward pada orang yang tepat dan saat yang tepat akan memacu mereka untuk berkarya lebih baik. Sebaliknya kisah ini juga menunjukkan bahwa Pandawa tidak bisa memanfaatkan momentum tersebut untuk menarik hati Karna. Kelak sekalipun Kresna bahkan Dewi Kunti ibunya sendiri membujuk dirinya untuk bergabung dengan Pandawa, tawaran tersebut ditolak dengan tegas. Baginya kesetiaan pada Astina adalah tidak ada duanya. Keberhasilan Duryudana memikat Karna menunjukkan bahwa seorang dapat dibujuk adanya kehormatan. Duryudana adalah seorang yang mampu membaca situasi tersebut.

Salah satu kesalahan serius hubungan antar manusia adalah ketidakmampuan memberikan penghormatan dan penghargaan. Ketidakmampuan ini memperlemah hakikat pengelolaan sumber daya manusia. Tidak jarang para pemimpin yang buruk mampu mempertahankan kekuasaannya karena kemampuan mengelola sumber daya yang handal. Perusahaan-perusahaan yang menghendaki kemajuan harus smart dalam memberikan perhatian sehingga sumber daya yang dibutuhkan tidak lepas.

Mengikat Loyalitas SDM
Para pemimpin perusahaan sering menggunakan strategi ini untuk memikat SDM yang potensial. Sesungguhnya customer pertama dalam perusahaan tersebut bukanlah para pemakai jasa atau produk melainkan para pegawai. Bilamana perusahaan menghargai para pemakai jasa maka mereka sebenarnya terlebih dahulu menghargai ” para pembuat jasa atau produk ” tersebut. Strategi ini telah berkembang menjadi etika bisnis untuk menghargai SDM. Tentu saja tidak cukup dengan memberikan gaji yang tinggi namun juga kepercayaan yang tinggi. Perusahaan yang menerapkan gaji rendah tidak akan mengalami ketahanan dalam jangka panjang.

Bagi SDM yang berpikiran jauh, jabatan, penghasilan atau fasilitas yang cukup tidak mampu menghentikannya berpetualang ke perusahaan lain. Jiwa petualang akan mendorongnya untuk mencoba di lingkungan lain. Hal ini terkadang akan menyusahkan perusahaan asalnya. Namun ada pula perusahaan yang memang tidak terlalu berminat untuk mengikat karena berpandangan selalu ada pasokan baru yang segar. Hal ini menjadikan perusahaan tersebut semacam Citibank atau Bank Niaga sebagai ” sekolah ” para manajer, alumni dari perusahaan-perusahaan ini akan mendapat posisi baik di tempat lain.

Strategi ini tidak boleh membuat kita terperangkap dalam pemilihan sekutu yang buruk. Strategi ini tidak berlaku pada sekutu-sekutu yang berkhianat. Namun jangan sampai sekutu yang baik ini mengalami kekecewaan karena apa yang diharapkan tidak tercapai. Fukuyama menjelaskan ukuran kepercayaan sebagai salah satu indikator modal sosial dalam ketahanan suatu negara.
Previous
Next Post »