PROLOG MANAJEMEN STRATEGI DALAM BHARATA YUDHA

MANAJEMEN STRATEGI
DALAM BHARATA YUDHA
Memenangkan tanpa Mengalahkan

COLLECTIE TROPENMUSEUM Wajangfiguur van karbouwenhuid voorstellende een pauzeteken TMnr 4551-27.jpg

Oleh :
SUDARMAWAN JUWONO

PROLOG :
UPAYA MENGGALI KEARIFAN MANAJEMEN LOKAL

Kisah wayang telah ratusan tahun menjadi inspirasi kearifan perilaku manusia di Indonesia khususnya di pulau Jawa dan Bali. Penggalian berbagai filosofi dan kebijaksanaan dari kisah wayang telah banyak dilakukan. Namun untuk kajian dengan fokus ” disiplin ilmu manajemen dan strategi ” belum banyak dilakukan secara mendalam. Padahal pada era sekarang ini perlu bagi menggali berbagai khasanah pengetahuan yang berdasar kearifan budaya lokal tidak terkecuali mengenai manajemen. Dengan demikian buku ini bukan respon terhadap maraknya berbagai konsep mengenai strategi manajemen yang berasal dari Cina. Seperti diketahui bersama banyak pelajaran manajemen bisnis mengambil pelajaran dari Sun Tzu atau kisah Sam Kok. Seni berperang Cina menjadi sumber kearifan manajemen dan strategi. Ribuan tahun bangsa ini telah melahirkan tokoh-tokoh dengan karya besar maka tidak mengherankan bilamana banyak kearifan berasal dari Cina.

Sebagaimana berbagai ilustrasi mengenai strategi manajemen banyak di antaranya menganalogikan proses bisnis dengan perang. Untuk masalah ini telah banyak buku yang mencoba menganalogikan praktik-praktik bisnis dengan strategi dalam perang. Tulisan mengenai siasat perang yang diimplementasikan dalam praktik-praktik manajemen dan pemasaran bukan hal yang baru lagi. Sebut saja nama Clausewitz dari Eropa atau Sun Tzu atau Cina telah mengisi buku manajemen yang menjadi pedoman dalam mengatur perusahaan. Apa kesamaan antara mengatur peperangan dengan manajemen bisnis modern ? Keduanya adalah situasi yang menghadapkan manusia untuk mengambil keputusan-keputusan terbaik pada waktu singkat, lingkungan serta dalam situasi budaya tertentu. Peperangan sendiri adalah suatu situasi kritis yang mengharuskan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya melakukan analisis, pengambilan keputusan tepat dan cepat. Sedangkan permasalahan yang dihadapi selain keterbatasan waktu adalah keterbatasan sumber daya. Prinsip-prinsip yang dipegang oleh panglima perang atau senapati tidak lain berangkat dari pemikiran manajemen untuk mengatur tindakan guna memperoleh hasil terbaik dan optimal.

Berbeda dengan buku-buku mengenai strategi perang yang berasal dari tradisi mancanegara yang tidak selalu sesuai dengan budaya Nusantara. Bahkan ada yang mengkritisi bahwa strategi perang Cina Tsun Tzu tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya Nusantara. Maka tulisan ini mengemukakan mengenai pengetahuan strategi perang yang berasal dari tradisi Nusantara. Sekalipun kisah asli ini berasal dari tradisi Hindu India namun kemudian digubah menjadi cerita wayang telah membumi dalam kebudayaan bangsa Indonesia selama berabad-abad. Wayang tidak hanya menjadi inspirasi bagi orang Indonesia yang beragama Hindu saja melainkan bagi mereka yang telah memeluk agama Islam. Pada perang Bharata Yudha konon merupakan perang yang tidak hanya melibatkan jumlah balatentara yang sangat besar pada jaman itu namun juga ada siasat serta tipuan sebagaimana perang modern. Ada pula cerita tentang Gatotkaca serta pasukannya yang mampu terbang. Sepengetahuan penulis, tulisan secara utuh untuk menjelaskan mengenai prinsip-prinsip peperangan Bharata Yudha belum pernah dibuat. Namun dalam perkembangannya manajemen modern ada gejala menempatkan manusia sebagai perangkat dalam proses produksi. Manusia direduksi menjadi obyek sistem teknologi dan diukur kemampuannya berdasar metode kuantitatif biologis, psikologis dan matematis.

Wayang sebagai khasanah budaya telah lama menjadi ruang untuk menimba nilai-nilai siasat dan manajerial. Pada wayang dapat dipelajari falsafah mengenai nilai-nilai kepemimpinan, etos kerja, siasat dan cara pandang. Sebagai ilmu maka manajemen dibagi menjadi paradigma, teori, strategi dan taktik. Pertama paradigma merupakan kumpulan asumsi yang tidak terbantahkan dari serangkaian teori.

Wayang merupakan sumber inspirasi yang terdapat pada khasanah lokal kebudayaan bangsa Indonesia. Namun belum dipublikasikan dengan baik bahwa dalam kisah Mahabharata dan Ramayana kita dapat menjumpai kisah-kisah yang memberikan inspirasi mengenai prinsip manajemen. Manajemen tidak hanya merupakan suatu hasil proses rasional namun juga mengandung makna ” art ”.

Adapun perang Bharatayudha merupakan perang besar dalam kisah pewayangan antara 2 (dua) kubu yaitu Pandawa dengan Kurawa pada satu pihak. Dalam versi pedalangan Ringgit Purwa atau wayang Purwa kisah peperangan ini diberi warna sendiri disesuaikan dengan latar budaya bangsa Indonesia. Sekalipun dalam kisah ini Kurawa digambarkan sebagai pihak yang salah namun tidak berarti kejelekan ada pada mereka semua. Bila sebelumnya kita belajar mengenai kepahlawan dari para panglima yang gagah berani maka kini kita akan diajak mempelajari bagaimana mereka melakukan strategi menaklukkan lawan.

Baca Yang Lainnya : Daftar Isi  
Previous
Next Post »