Prinsip-prinsip Manajemen Strategi dalam Pewayangan


Dalam perang ada 2 (dua) prinsip yaitu bertahan dan menyerang. Kesamaan keduanya adalah kemenangan dengan jalan mengalahkan lawan atau setidaknya membuat kerugian sebesar-besarnya pada pihak lawan. Tidak hanya pihak yang lebih lemah bertahan terhadap gempuran pihak yang lebih kuat, namun terkadang bertahan merupakan siasat menunggu kesempatan untuk memukul mundur lawan.

Bertahan
Bertahan adalah suatu strategi yang dilakukan untuk mempertahankan posisi dari serangan. Sekalipun bertahan namun strategi ini tidak dapat dikatakan pasif sebaliknya bisa merupakan transisi dari suatu posisi untuk menyerang. Ada beberapa macam strategi bertahan yaitu : status quo (position defense), strategi mendampingi (flank defense), serangan menguasai lebih dahulu (premepire defense), serangan balik (counter-offensive defense), strategi berkelit (mobile defense) dan meninggalkan begitu saja (contraction defense).

a. Status Quo Atau Wait and See
Dalam strategi ini bersifat mempertahankan posisi dari penyerang. Tujuan dari status quo adalah mempertahankan apa yang telah dimiliki atau berusaha untuk tidak mengeluarkan banyak tenaga. Alasan mengapa strategi ini dipilih sangat beraneka ragam. Antara lain untuk menunggu kesempatan yang baik untuk membalas serangan lawan.

Resi Bisma pada awal pertempuran menggunakan strategi ini untuk mempertahankan diri dari serangan Pandawa yang sangat frontal. Sekalipun Pandawa telah mengerahkan tenaga namun tidak mampu mendekati Resi Bisma. Siasat sama digunakan Prabu Puntadewa menghadapi Prabu Salya. Sifat serangan Salya yang agresif dilawan dengan kemampuan Puntadewa yang cenderung mampu mengelak dan menahan diri. Dalam pewayangan, prabu Puntadewa memenangkan pertempuran justru karena berdiam diri sementara Prabu Salya menyerang dengan aji Candrabirawa. Candrabirawa yang berwujud raksasa tidak mampu menyerang Puntadewa yang dilindungi Jamus Kalimasada. Senjata Salya justru berbalik mengenai dirinya sendiri. Sekalipun siasat ini nampak sangat pasif namun sebenarnya justru berbahaya.

Napoleon pernah terkena siasat ini ketika menyerang Rusia saat musim dingin. Pasukan Rusia tidak mencoba menghalangi gerak maju pasukan Perancis karena mengetahui bahwa lawan akan terperangkap dalam badai salju. Pasukan yang terperangkap ini kemudian menjadi bulan-bulanan pasukan Rusia maupun mati kelaparan dan kedinginan.

Rahasia siasat ini mungkin tidak banyak dipahami dalam kebudayaan Barat namun tidak demikian dalam kebudayaan Timur. Pada Tai Chi, ada istilah meminjam kekuatan lawan. Hal ini sebenarnya yang dimaksud. Jika lawan menyerang dengan segenap kekuatan maka kekuatan itulah yang akan kembali padanya. Kunci dari strategi ini adalah kemampuan pengendalian diri. Hal ini biasa pula dilakukan dokter atau orang tua pada anak-anak. Ketika mereka emosional maka dibiarkan emosi tersebut dikeluarkan sehingga akhirnya mereka reda.

Siasat ini juga bisa digabungkan dengan siasat yang lain seperti dilakukan Raden Wijaya pada pasukan Kubilai Khan. Bukan menyerang pasukan tersebut namun sebaliknya bahkan membantu menyerang Jayakatwang musuh Prabu Kertanegara.

b. Mendampingi (flank defense)
Strategi mengunjukkan diri pada kawan atau lawan dengan melayani serangan lawan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pada pasukan. Strategi bertahan semacam inilah yang digunakan Resi Bisma terhadap Pandawa. Pada dasarnya Resi Bisma tidak berkeinginan membunuh Arjuna serta Pandawa lainnya, namun tetap berusaha menyemangati pasukannya.

Siasat ini juga dilakukan Arjuna yang menyamar menjadi Wrehatnala membantu Wirata saat menghadapi serangan Astina. Arjuna tidak menghendaki penyamarannya terbongkar sehingga hanya berusaha menunjukkan kemampuan Wirata mampu memukul mundur Astina yang lebih kuat.

Dalam perang bisnis atau politik, upaya bertahan semacam ini juga banyak dilakukan untuk mempertahankan citra pelaku di antara gempuran lawan. Seorang politikus melakukan serangan balik yang serupa dilakukan lawan. Ketika motor-motor eks-Cina membanjiri pasaran Indonesia, para pemain lama seperti Honda mengeluarkan jenis motor baru yang serupa dengan motor pesaing tersebut. Upaya tersebut mampu mempertahankan reputasi pemain lama tanpa harus mengorbankan kualitas produk yang ada.

c. Bertahan dengan menguasai lebih dahulu (premepire defense)
Bertahan dengan menyerang lebih dahulu merupakan salah satu strategi yang dilakukan berdasar kepercayaan diri. Inisiatif untuk menantang Kurawa dalam Bharata Yudha merupakan srategi yang dilakukan Pandawa karena didasarkan keyakinan bahwa lebih baik aktif dari pada berdiam diri. Pandawa telah mengalami pengalaman yang menyakitkan dengan Kurawa melalui adu judi maupun tipuan-tipuan yang nyaris membinasakan mereka. Berdiam diri menunggu Kurawa menyerahkan hak-hak atas Astina seperti pungguk merindukan bulan. Strategi ini hanya bisa dilakukan bilamana pelaku telah melihat situasi benar-benar siap sehingga tidak mengalami kerugian. Dalam bisnis, strategi ini dilakukan para pebisnis yang merasa lebih baik menjadi pionir sehingga akan diingat oleh para pelanggan. Sebagai contoh kata Rinso sabun cuci pernah dalam suatu masa dipakai untuk menamai semua jenis sabun yang dipakai untuk mencuci.

d. Serangan balik (counter-offensive defense)
Serangan balik adalah suatu strategi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang sebelumnya diserang terlebih dahulu. Ketika Durna ditewaskan oleh Drestajumena, pasukan Pandawa yang sebelumnya bertahan dari gempuran mendadak bersemangat segera mengejar pasukan Kurawa. Serangan balik juga dilakukan Kurawa ketika Abimanyu berhasil menembus formasi Teratai yang digunakan Astina. Ketika Abimanyu berhasil menggempur lapisan luar formasi kemudian memasuki inti pasukan kemudian Kurawa berbalik mengepung. Abimanyu terdesak di tengah-tengah gempuran pasukan Kurawa, sedangkan pasukan Pandawa tidak bisa memasuki formasi tersebut. Akhirnya Abimanyu gugur sebagai pahlawan Pandawa. Strategi ini dapat dikatakan upaya untuk memanipulasi keadaan yang sebenarnya atau mengukur kekuatan pasukan penyerang. Bisa pula peralihan dari strategi status quo yang bersifat pasif dengan prinsip ” wait and see ” kemudian menyerang saat situasi mendukung. Strategi ini dilakukan oelh Uni Soviet saat perang dunia II berperang dengan Jerman. Ketika Jerman sedang berada pada puncak kejayaan, pasukan Soviet tidak melakukan tindakan serangan yang berarti namun kemudian berbalik menyerang ketika Jerman mulai kewalahan digempur dari segala penjuru.
 
e. Strategi berkelit (mobile defense)
Resi Bisma hanya berkelit ketika diserang oleh Arjuna, namun begitu mulai membahayakan segera membalas serangan cucunya tersebebut. Strategi berkelit adalah upaya bertahan dengan tidak melakukan balasan serangan secara frontal karena akan merugikan diri sendiri. Sebaliknya berusaha mengikuti serangan dengan berkelit atau menghindar sehingga serangan lawan sia-sia. Siasat berkelit biasa dilakukan dalam pencak silat yang tidak mengutamakan kekuatan melainkan kecepatan. Strategi ini hanya bisa dilakukan dengan kecepatan yang tinggi serta fleksibelitas.

f. Meninggalkan begitu saja (contraction defense).
Strategi menggunakan cara baru dalam bertahan dilakukan bilamana situasi tidak menguntungkan. Cara meninggalkan peperangan dengan cara mundur dilakukan oleh Jayadrata yang berhasil membunuh Abimanyu. Jayadrata ketakutan pada balas dendam Arjuna sehingga lari meninggalkan peperangan. Namun Duryudana berhasil menyakinkan bahwa dirinya tidak perlu takut terhadap ancaman Arjuna sehingga kemudian memasuki medan peperangan kembali. Siasat lari dari peperangan ini atau mundur sering dicap sebagai tindakan pengecut.

Dalam istilah Jawa ” tilar glanggang colong playu ”. Sebenarnya istilah ini hanya bisa dimaknai untuk perang tanding berhadapan satu lawan satu bukan peperangan besar dimana setiap pihak tidak boleh bersifat konyol bertahan menghadapi kekuatan yang tidak berimbang.

Strategi Menyerang

Menyerang merupakan strategi yang dilakukan pada suatu organisasi yang lebih lemah atau justru lebih kuat. Strategi menyerang terdiri dari beberapa macam antara lain serangan frontal (frontal attack), serangan menjepit (flank attack), serangan gerilya (guerilla attack) dan serangan membiarkan (by pass attack).

a. Serangan frontal (frontal attack)
Serangan total berpegang pada prinsip kekuatan sebagai kunci kemenangan. Pasukan yang memiliki kekuatan di atas lawan bisa melakukan serangan frontal karena memungkinkan. Manuver penyerangan bisa dilakukan dengan tujuan mengobrak-abrik manuver lawan. Abimanyu melakukan serangan frontal terhadap formasi pasukan Cakrabyuha Kurawa yang dipimpin oleh Resi Durna. Siasat ini dilakukan pasangan Srikandi-Arjuna menyerang Resi Bisma. Srikandi melakukan tindakan proaktif dengan menyerang secara frontal sedangkan Resi Bisma berusaha untuk menghindari melawan wanita. Resi Bisma berusaha menyerang Arjuna untuk mematahkan serangan pasangan ini, namun usahanya menghalau malah gagal. Serangan frontal adalah suatu strategi yang dilakukan dengan cara menantang serta berinisiatif menyerang lawan terlebih dahulu dengan kekuatan yang diyakini dapat mengimbangi. Prinsip utama adalah pengetahuan kekuatan lawan serta kemampuan diri sendiri sehingga tidak mengalami kekalahan.

b. Strategi Supit Urang Atau Serangan menjepit (flank attack)
Manuver Supit Urang adalah menyerang dengan jepitan. Serangan Gatotkaca pada Adipati Karna adalah melakukan gempuran dengan maksud tidak membiarkan lawan berdiam diri. Serangan ini dimaksudkan untuk menghabiskan kekuatan lawan sehingga akhirnya lawan kehilangan kemampuan. Serangan menjepit ini memaksa lawan untuk bertindak dan saat lawan bertindak maka serangan sebenarnya dilakukan. Melalui cara ini, serangan dimaksudkan akan memperlihatkan tidak hanya mampu menandingi saja tetapi juga memperlihatkan kemampuan pada lawan bahwa yang bersangkutan tidak kalah unggul.

c. Serangan gerilya (guerilla attack)
Serangan gerilya dilakukan oleh para senapati Pandawa seperti Setyaki, Nakula dan Sadewa dapat dikatakan bukan serangan utama. Meskipun serangan tampak seperti serangan yang tidak berbahaya melainkan justru sangat berbahaya karena akan sangat menganggu.

Pasca perang Bharata Yudha, senapati terakhir Astina yaitu Aswatama dan Kartamarma juga melakukan serangan gerilya. Serangan yang dilakukan Aswatama pada malam ke 16 tersebut memakan korban cukup banyak antara lain Srikandi, Drestajumena, dan beberapa kerabat Pandawa lainnya. Sekalipun Aswatama berhasil ditangkap namun Pandawa mengalami kerugian kehilangan orang-orang yang terbaik di antara mereka. Bahkan suatu saat serangan gerilya ini dapat berubah menjadi serangan frontal bila kondisi telah memungkinkan. Para pebisnis melakukan serangan gerilya dengan berbagai tujuan yaitu mampu bertahan selama mungkin, mencapai posisi yang lebih baik secara bertahap atau menghindari serangan lawan yang lebih kuat. Jenderal Nasution menulis buku Dasar-dasar perang gerilya yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Keunggulan perang gerilya adalah kemampuan untuk melakukan tindakan ” serang dan lari ”, sehingga pada prinsipnya adalah mau menyerang tetapi tidak mau diserang. Kekuatan gerilyawan adalah kemampuan melakukan infiltrasi dan mendapatkan informasi intelijen. Kekuatan pasukan gerilya Republik Indonesia mampu memaksa pemerintah Belanda ke jalan diplomasi.

d. Serangan Taktik Baru (by pass attack).
Ketika Pandawa dalam 9 (sembilan) hari mengalami kekalahan menghadapi pasukan Astina yang dipimpin oleh Resi Bisma maka Prabu Kresna mencari jalan lain. Strategi yang selama ini dianggap tidak akan mampu mengalahkan senapati tangguh tersebut. Akhirnya dipilih Srikandi, senapati wanita untuk mendampingi Arjuna menghadapi Resi Bisma. Serangan dengan taktik baru dilakukan oleh Prabu Kresna untuk melawan Resi Durna adalah melakukan tipuan. ” Kita harus menyingkirkan aturan dan etika bila kita ingin mengalahkan Resi Durna, ” demikian kata Kresna. Strategi untuk mencari pola baru sama sekali adalah suatu bentuk serangan yang dianggap lebih unggul.

Cara-cara atau paradigma lama tidak dapat lagi dapat digunakan lagi untuk menggempur lawan. Kapan serangan jenis ini dilakukan. Strategi ini dilakukan oleh Telkom pada tahun 1990-an yang meninggalkan bisnis telegram yang telah melekat dengan usaha bisnis telekomunikasi selama puluhan tahun untuk mendapatkan bisnis baru yang dianggap lebih menguntungkan. Pertimbangan memasuki bisnis baru dengan investasi besar dilakukan bukan hanya bertindak sebagai follower namun mempertimbangkan perubahan lingkungan usaha yang tengah berlangsung.

Hal sama dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan konflik Aceh terutama setelah bencana Tsunami melanda Aceh. Prinsip pemerintah yang mengutamakan pendekatan damai dan demokratis berhasil mengajak semua pihak lawan duduk bersama di meja perundingan. Hasilnya Aceh tetap menjadi bagian negara kesatuan Republik Indonesia. Bila saja, Indonesia ataupun gerakan kemerdekaan Aceh tidak merubah paradigma mereka mengenai perdamaian niscaya kedamaian di tanah rencong ini tidak pernah terwujud.
Previous
Next Post »