EPILOG MEMENAHGKAN TANPA MENGALAHKAN

EPILOG
Memenangkan Tanpa Mengalahkan

COLLECTIE TROPENMUSEUM Wajangfiguur van karbouwenhuid voorstellende een pauzeteken TMnr 4551-27.jpg

Oleh :
SUDARMAWAN JUWONO




Strategi Lainnya : Kearifan Strategi Dalam Bharatayudha



"Sugih tanpa Banda Nglurug tanpa bala, Menang tanpa ngasorake"
-(RM Sosrokartono)-


Dari berbagai strategi yang dikembangkan dalam mencapai kemenangan dan mengatasi keterbatasan sumber daya. Cara mengembangkan kekuatan, mengatur pasukan hingga tipuan dilakukan untuk mencapai kemenangan. Hal ini membuat memahami Bharata Yudha tidak bisa dilakukan dalam perspektif hitam putih atau hanya kebaikan dan kejahatan saja. Tokoh-tokoh dalam Bharata Yudha tidak pernah ditampilkan hitam putih, semuanya harus dipahami dalam konteks masing-masing. Suatu penilaian harus melibatkan semua akar persoalan dan kondisi yang tengah dialami. Hal ini membuat Bharata Yudha mampu hidup sebagai gambaran yang terus menerus menginspirasi manusia dari abad keabad selama ratusan tahun. Dari berbagai uraian dan ilustrasi menunjukkan bahwa Bharata Yudha adalah arena adu strategi para pemimpin yang dikembangkan berdasarkan pengetahuan dan nilai-nilai yang mendasarinya. Pemilihan strategi ini didasarkan pada asumsi bahwa kecerdikan, kecepatan dan penempatan energi bisa mengalahkan pihak yang memiliki kekuatan pasukan lebih besar namun kalah cerdas dalam mengatur posisi. Peperangan tidak hanya memerlukan kombinasi orang yang berani mengambil risiko (risk taker) dan berpikir kalkulatif (rasional) namun juga berpikir intuitif dan mengendalikan emosi.

Rahasia Strategi 

Strategi adalah jantung dari manajemen. Seperti halnya manajemen maka mengatur strategi merupakan kombinasi antara intuisi maupun pengetahuan untuk melakukan suatu tindakan sehingga hasilnya tepat. Selain perhitungan yang bersifat kuantitatif maka faktor yang sangat penting harus dikembangkan adalah intuisi. Melalui intuisi keterbatasan informasi dan membaca situasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan dapat diatasi. Intuisi yang tepat adalah seperti keputusan Arjuna bersumpah hendak bunuh diri jika tidak bisa membunuh Jayadrata. Arjuna mengetahui bahwa dalam mencapai keinginan tersebut tidak mungkin dilaksanakan sendirian namun diperlukan peran orang lain. Melalui keputusan yang sepintas seperti orang yang putus asa, Arjuna dengan cerdas memaksa orang lain untuk membantu dirinya.

Prinsip untuk menentukan secara cepat dan tepat. Bilamana tidak dapat dilakukan pengambilan keputusan secara cepat akan merugikan karena menyebabkan situasi berbalik. Peperangan mengajarkan bagaimana seseorang mampu memahami dimensi waktu dan situasi yang sangat ekstrim atau terbatas. Keandalan dalam memahami situasi merupakan kunci utama dalam kemenangan. Prinsip ini mengajarkan bahwa pengambilan keputusan secara cepat dan tepat tidak boleh dilakukan secara gegabah. 

Merancang strategi adalah menyusun suatu perencanaan dalam kelaziman maupun di luar kelaziman. Cara berpikir strategi dapat dilihat dari skema di bawah ini.

Etis
Tidak Etis
Rasionalitas
Kuadran 1
Perang akal – rasional
Kuadran 3
Menipu atau membodohi
Irasionalitas
Kuadran 2
Tidak lazim –rasional
Kuadran 4
Curang

Sumbangan apa gerangan yang diberikan oleh Bharata Yudha. Bagaimana dengan manajemen  yang berhubungan dengan eksistensi dan tujuan manusia ? Manajemen adalah cara memandang manusia yang mencakup tujuan hidup, keinginan, kebutuhan dan cara mencapainya secara optimum dengan dilandasi nilai-nilainya. Dengan demikian tujuan manajemen untuk mencapai hasil yang efektif dan efisien sebenarnya telah membuat manusia terperangkap pada tujuan yang materialistis. Melalui Bharata Yudha kita belajar mengenai strategi manajemen yang didasarkan berbagai pandangan maupun nilai-nilai manusia sebagai pelakunya. Pada manajemen ini suatu proses ” experience ” adalah sepenting dari tujuannya. Dalam kehidupan sehari-hari prinsip prinsip seperti halnya formasi pasukan secara tidak sadar diterapkan. Manajemen memerlukan strategi atau siasat terutama dalam mengatur sumber daya yang terbatas guna mengalahkan lawan. Dalam peperangan pengaturan strategi merupakan upaya mengatur ” posisi ” sehingga didapatkan kedudukan yang menguntungkan. Semua membutuhkan strategi dalam mencapai tujuannya baik itu jenderal di medan perang, politikus, usahawan, artis maupun mahasiswa.

Bukan Kompetisi Melainkan Pencapaian Tujuan

Sepintas kita melihat bahwa Bharata Yudha merupakan suatu kompetisi atau persaingan. Namun dari berbagai uraian ternyata disimpulkan bukan merupakan kompetisi namun suatu cara untuk mencapai keseimbangan. Prinsip mencapai keseimbangan sebenarnya merupakan hukum alam. Alam tidak mengenal adanya persaingan melainkan upaya menegakkan keseimbangan. Dengan demikian bila berdasar paradigma kompetisi akan timbul keinginan untuk mengalahkan maka yang timbul adalah win and lose. Sedangkan berdasarkan paradigm keseimbangan maka yang timbul adalah kemenangan bersama. Meskipun kemenangan bersama tidak menjadi akhir dalam Bharata Yudha namun spirit tersebut sebenarnya telah ditiupkan sejak awal.

Memenangkan Tanpa Mengalahkan 

Strategi adalah ilmu mengenai memenangkan. Dalam bahasan manajemen yang selama ini kita kenal konsep kemenangan selalu dikonfrontasikan dengan kekalahan. Kemenangan adalah identik dengan mengalahkan. Clausewitz mengatakan bahwa strategi adalah memenangkan peperangan atau dengan kata lain adalah cara mengalahkan lawan. Sedangkan Tsun Tzu selangkah lebih maju dengan mengatakan bahwa strategi yang baik adalah mengalahkan tanpa melakukan peperangan. Namun kedua pandangan ini masih terpaku pada kemenangan dan kekalahan. Melalui Bharata Yudha kita belajar mengenai kemenangan tanpa mengalahkan seperti dalam ungkapan yang diajarkan RM Sosrokartono yaitu “ menang tanpa ngasorake “. 

Apa beda mengalahkan dengan memenangkan ? Sifat kemenangan adalah tujuan semua pihak maka tidak mengherankan bila dikatakan win-win solution. Sedangkan mengalahkan terkandung di dalamnya ada pihak yang direndahkan karena kalah atau tidak menang. Apakah suatu penyelesaian konflik harus selalu berakhir pada salah satu pihak yang kalah ? Penyelesaian konflik dapat dicapai dengan cara memenuhi target atau kebutuhan masing sekalipun tidak semuanya terpenuhi. Pada situasi ini terdapat negosiasi hingga kompromi yang dimulai sikap saling menghargai. Dengan demikian mengalahkan dan memenangkan adalah hal yang berbeda. Dengan demikian sebenarnya inti kemenangan adalah suatu tindakan tanpa harus mengalahkan. Ajaran ini lebih penting dan tinggi maknanya daripada menang tanpa pertempuran. 

Membahas hal tersebut tidak terlepas dari 6 (enam) prinsip yaitu prinsip apa yang hendak dicapai (target), pengenalan siapa diri kita, siapa lawan kita, apa yang menjadi prinsip atau platform, implementasi praktis dan evaluasi atas hasil yang telah dicapai sebagai suatu siklus. Berbicara mengenai ke enam prinsip tersebut adalah suatu experience (laku) dan wisdom (makrifat). Ajaran yang terkandung didalamnya menjelaskan betapa pentingnya prinsip dan falsafah dalam menyelesaikan suatu masalah. 

Bagaimana aplikasi strategi ini dalam bisnis ? Dalam bisnis sebenarnya strategi ini justru lebih nyata karena pemecahan yang bersifat kompromistis lebih diutamakan dibandingkan dengan pemecahan yang mengakibatkan salah satu pihak tersingkir. Penerapan strategi ini dapat dilihat dari segmen masing-masing pihak.

Sangkan Paraning Dumadi : Asal Segala Tujuan
Kesimpulan berikutnya adalah tujuan manajemen yang hakiki yaitu pada pengabdian kepada Tuhan. Kisah Bharata Yudha sarat dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan, keduanya tidak pernah dipertentangkan. Seperti ungkapan bijak “ barang siapa ingin mengenali Tuhannya, hendaklah mengenali dirinya sendiri “. Namun perlu diingat mengenali dirinya sendiri tidak berarti mengenali seluruh pengetahuan mengenai Tuhan itu sendiri.  Keterbatasan kemanusiaan manusia membuat dirinya terbatas untuk memasuki kebenaran yang sesungguhnya. Hal ini tergambar dari keragu-raguan Arjuna saat hendak memulai perang merupakan keraguan raguan seorang anak manusia. Prabu Kresna memberikan ajaran mengenai wawasan ketuhanan sebagai tujuan kehidupan yang sebenarnya. Prinsip ini mengajak Arjuna untuk berpikir “ out of box “ seperti memecahkan tempurung agar sang katak mampu melihat dunia. Bagaimana caranya, pertama adalah mencari tahu tujuan kehidupan ini sebenarnya bagi manusia.

Dalam pandangan Jawa, kearifan ini diajarkan dalam konsep sangkan paraning dumadi. Bahwa manusia diciptakan Tuhan dalam kerangka pengabdian kepadanya. Bentuk penyembahannya mencakup cipta, rasa dan karsa. Berbeda dengan tujuan manajemen yang semata-mata bertujuan mendapatkan hasil optimal dengan cara yang efisien dan efektif maka manajemen dalam kerangka ini telah melangkah lebih jauh. Manajemen adalah kerangka tindakan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki Tuhan. Jejak pemikiran ini sebenarnya dapat dilacak dalam pemikiran Protestantisme menurut Weber bahwa tujuan hidup adalah untuk mengabdi pada Tuhan. Atau prinsip dalam syariah Islam bahwa hidup itu untuk mengabdi pada Tuhan. Demikian pula dalam ajaran Tao bahwa perbuatan harus selaras dengan hukum keteraturan alam. Namun demikian pemikiran dasar ini kemudian melenceng karena kemerdekaan manusia yang telah melampaui batas-batasnya.

Manunggaling Kawula lan Gusti

Prinsip manunggaling kawula dan gusti dalam filosofi wayang Jawa sangat penting. Ajaran ini dalam konteks keagamaan dianggap penyimpangan karena menganggap manusia dan Tuhan bisa menyatu. Kita pisahkan filosofi ini dengan masalah religio-spiritual yang mungkin kontroversial. Pada bahasan ini kita akan mengangkat dari sisi manajemen.
Pada prinsip ini terkandung beberapa ajaran mengenai manajemen. Pertama, antara gusti (tuan) dan kawula (hamba) harus memiliki kesatuan. Antara pikiran, perasaan dan tindakan harus menyatu. Pikiran dan perasaan dapat dianggap sebagai tuan sedangkan tindakan adalah hamba. Tidak ada tindakan yang dianggap berarti bila dilakukan tanpa pikiran dan perasaan.  Kedua, dalam hubungan manusia antara tuan yang menjadi atasan dan hamba yang menjadi bawahan  sebenarnya memiliki hakikat sama. Prinsip ini telah diterima baik dalam manajemen pemasaran modern. Bila dulu “ pelanggan atau pembeli adalah raja “ sekarang bisa terbalik “ pembeli adalah pelayan “. Kita melihat adanya self service  menjadi keunggulan tersendiri bagi suatu produk. Ketiga, sang tuan harus menghayati menjadi bawahan dan sebaliknya. Bila tidak demikian maka akan timbul kesalah pengertian. Dalam cerita Petruk Dadi Ratu (Petruk menjadi raja), ada pelajaran penting ketika sang hamba menjadi seorang yang sangat berkuasa. Petruk pada mulanya bertindak bijaksana namun kemudian menjadi ceroboh. Pemimpin memiliki kewajiban melayani rakyat, kepemimpinan adalah amanah
Previous
Next Post »