Strategi 17. Karakter Manajemen

MANAJEMEN STRATEGI
DALAM BHARATA YUDHA
Memenangkan Tanpa Mengalahkan

COLLECTIE TROPENMUSEUM Wajangfiguur van karbouwenhuid voorstellende een pauzeteken TMnr 4551-27.jpg

Oleh :
SUDARMAWAN JUWONO

Karakter Manajemen



Strategi Lainnya : Kearifan Strategi Dalam Bharatayudha



Manajemen memiliki korelasi dengan perilaku dan kepribadian manusia. Ada beberapa figur pemimpin pasukan yang terlibat dalam Bharata Yudha dan perilaku manajemen yang beragam antara lain yaitu :

(1)         Puntadewa
         Kisah-kisah wayang menggambarkan Puntadewa atau Yudistira  sebagai pemimpin Pandawa yang berhati lembut dan tidak memiliki sikap permusuhan. Julukannya adalah Ajatasatru yaitu orang yang tidak memiliki musuh. Sekalipun demikian perintahnya sangat ditaati oleh para adik-adiknya. Pusaka yang dimiliki adalah Jamus Kalimasada.  Panglima Astina yang mati ditangan Puntadewa adalah Prabu Salya. Puntadewa adalah figur kepemimpinan yang mengayomi serta tidak segan mendelegasikan wewenang pada bawahan.  Bagi Puntadewa lebih baik berkorban dari memiliki kemenangan tetapi di atas penderitaan orang lain.  Kelebihan lain Puntadewa adalah mampu mendorong semangat perjuangan para Pandawa.
Keputusan yang diambilnya selalu berlandaskan hati nurani. Keyakinan tersebut mendorong dirinya untuk menerima tantangan Kurawa bermain dadu karena dianggap dapat mengambil kembali Astina tanpa peperangan. Bagi Puntadewa tidak ada kebimbangan dalam memutuskan sesuatu. Kelemahannya adalah berani mengambil resiko yang kurang diperhitungkan sehingga mencelakakan Pandawa. Keberanian mengambil risiko pada saat bermain judi mengakibatkan kehilangan akal sehatnya sehingga rela mengorbankan Pandawa, Drupadi serta kehormatan mereka sendiri.

(2)         Arjuna
         Arjuna atau Permadi adalah satria panengah Pandawa anak Prabu Pandudewanata. Pandawa dilahirkan dari rahim Dewi Kunti. Arjuna meskipun dikenal sebagai seorang satria yang gemar menuntut ilmu namun memiliki kerendahan hati serta hormat pada orang tua dan guru. Kepandaian Arjuna dalam memanah boleh dikatakan tidak ada tandingannya. Pusaka yang dimiliki adalah panah Pasopati.  Tokoh Astina yang berhasil ditewaskan Arjuna adalah Bisma, Jayadrata dan Adipati Karna. Arjuna memiliki keberanian dan kesaktian luar biasa. Kelemahannya adalah mudah percaya diri namun juga mudah kehilangan percaya diri serta bimbang. Hal tersebut terjadi ketika Pandawa berhadapan dengan para sesepuh Astina yang sangat mereka hormati. Arjuna menjadi ragu-ragu karena perang ini menjadi sesuatu yang berada di luar hati nurani mereka.

(3)   Bimasena
       Bimasena atau Werkodara adalah satria panegak Pandawa yang berayah Pandudewanata dan ibu Dewi Kunti. Bimasena dikenal sebagai satria bertubuh besar yang memiliki kekuatan luar biasa dan pandai memainkan gada. Permainan gada Bima hanya dapat ditandingi oleh Duryudana. Pusaka yang dimilikinya adalah Gada Rujakpolo. Banyak tokoh Kurawa yang dibinasakan Bimasena termasuk Dursasana dan Duryudana. Bimasena adalah seorang yang sangat rasional dan lugu, tidak memiliki banyak pilihan.


(4)         Bisma
       Resi Bisma adalah sesepuh Astina yang berbudi luhur sangat dihormati Kurawa maupun Pandawa. Ayahnya adalah Prabu Santanu dan ibu Dewi Gangga, sesungguhnya Bisma adalah pewaris tahta Astina. Namun karena keluhuran budinya, tahta tersebut dilepaskan dan diberikan pada keturunan adik tirinya yaitu Abiyasa. Bisma terikat dengan sumpahnya tidak menikah dan akan membela Astina dalam kondisi apapun juga. Bisma dapat disamakan dengan Kumbakarna pada kisah Ramayana atau Hector dalam perang Troya. Sebagai benteng Astina, Resi Bisma merupakan satria pilih tanding dan sakti mandraguna yang tidak terkalahkan. Akhirnya Bisma dikalahkan oleh duet Arjuna dan Srikandi.

(5)         Durna
Durna adalah seorang maha guru Astina yang pernah mengasuh Pandawa maupun Kurawa. Resi Durna adalah ahli strategi dan taktik peperangan.  Keunggulan Resi Durna dalam mengatur siasat perang hanya bisa ditandingi oleh Kresna. Sulit untuk mengacaukan formasi perang yang dipimpinnya. Pandawa sendiri adalah murid mereka, ilmu perang Pandawa masih jauh dibandingkan ilmu yang dimiliki Resi Durna. Resi Durna berhasil ditewaskan oleh Drestajumena ketika lengah karena merenungkan kematian Aswatama anaknya.
Keunggulan Resi Durna adalah ilmu persenjataan dan peperangan. Sekalipun telah berusia lanjut namun  Resi Durna masih menunjukkan ketangkasan dan kecermatannya dalam memimpin pasukan. Kelemahan Resi Durna adalah kecintaan pada anaknya.

(6)         Salya
       Sebenarnya keikutsertaan Prabu Salya membantu Duryudana dalam perang ini tidak sepenuh hati. Hal itu ditandai berbagai pertentangan dan ketidaksukaan terhadap segala tindak tanduk Duryudana. Ketika Adipati Karna harus meminta dengan menyakinkan untuk meminta Prabu Salya berkenan sebagai sais keretanya. Sebenarnya Prabu Salya berkeberatan menjadi sais bagi menantunya. Adipati Karna tidak segan-segan menunjukkan pada Prabu Duryudana bahwa sebenarnya Prabu Salya ini masih berat dengan Pandawa. Berangkatlah Prabu Salya dengan hati tidak senang menjadi sais kereta perang. Dalam perspektif manajemen Adipati Karna melakukan kesalahan paling mendasar yaitu menyerahkan nasibnya pada orang yang sebenarnya tidak dipercayainya. Pusaka yang dimiliki adalah Aji Candra Birawa yang berwujud pasukan raksasa.

(7)         Duryudana
Duryudana atau Suyudana sebagai raja Astina merupakan seorang yang teguh pendirian. Sebagai seorang satria yang dibesarkan dalam situasi untuk mempertahankan kedudukannya maka Duryudana selalu berupaya untuk memperoleh dukungan kuat bagi Astina. Prabu Duryudana merupakan ahli bermain gada yang menjadi lawan tanding sepadan dengan Bimasena. Akhir peperangan, Duryudana maju perang tanding dengan Bimasena yang berakhir dengan kekalahannya.

(8)         Karna
       Karna semula dikenal sebagai anak kusir yang bernama Adirata. Pada suatu perlombaan memanah, Karna dihina Pandawa dan tidak diperbolehkan mengikuti pertandingan. Namun Duryudana menjadikannya seorang satria dan memberi kedudukan sebagai seorang adipati atau raja muda. Wilayah kekuasaannya adalah negeri Awangga. Pusaka yang dimiliki adalah Kuntawijayadanu yang mirip peluru kendali mengejar obyek sasarannya.

(9)         Aswatama
       Aswatama adalah anak Resi Durna dengan ibu Dewi Wilutama. Kesaktian dan kepandaian memanah merupakan salah satu kelebihan Aswatama. Aswatama merupakan orang yang sangat mengasihi ayahnya serta siap berbuat apa saja untuk membantu ayahnya. Keberadaan dirinya menjadi tulang punggung angkatan perang Astina.

(10)     Gatotkaca
       Gatotkaca adalah raja negeri Pringgodani negeri para raksasa. Satria ini anak Bimasena dengan Dewi Arimbi adik raja Pringgodani yang bernama Arimba. Kesaktian Gatotkaca adalah kemampuannya bisa terbang melanglang buana. Keberadaannya merupakan tokoh muda yang menopang angkatan perang Amarta. Dalam pewayangan, Gatotkaca dikenal sebagai tokoh satria sakti mandraguna pilih tanding otot kawat balung wesi.

(11)     Abimanyu
       Abimanyu adalah anak Arjuna yang berasal dari rahim Dewi Sembadra. Kesaktian dan keberanian Abimanyu sangat luar biasa. Abimanyu yang menikah dengan Dewi Siti Sundari memiliki anak yang bernama Parikesit. Anak inilah yang akan menurunkan serta menjadi penerus Pandawa.

(12)     Seta
       Seta adalah satria yang berasal dari kerajaan Maespati. Kerajaan ini memihak Pandawa karena pertalian hutang budi karena pernah ditolong lima bersaudara ketika diserang Kurawa. Kemampuan Seta di atas rata-rata para satria sehingga diangkat menjadi panglima perang. Dalam pertempuran hari pertama Seta berhasil dikalahkan Resi Bisma.

(13)     Jayadrata
       Jayadrata adalah anak raja Sindu yang dalam pewayangan merupakan bagian dari ari-ari Bimasena. Hal ini membuat Jayadrata nampak seperti Bimasena. Jayadrata berhasil dipikat Sengkuni menjadi warga Astina dan dinikahkan dengan Dewi Dursilawati.  Jayadrata memiliki sikap yang kurang teguh sekalipun kesaktiannya cukup tinggi. Pada suatu kesempatan Jayadrata berhasil ditewaskan oleh Arjuna yang berpura-pura hendak bunuh diri.
Previous
Next Post »