Strategi 18. Penggunaan Telik Sandi

MANAJEMEN STRATEGI
DALAM BHARATA YUDHA
Memenangkan Tanpa Mengalahkan

COLLECTIE TROPENMUSEUM Wajangfiguur van karbouwenhuid voorstellende een pauzeteken TMnr 4551-27.jpg

Oleh :
SUDARMAWAN JUWONO

Penggunaan Telik Sandi



Strategi Lainnya : Kearifan Strategi Dalam Bharatayudha




Masing masing pihak baik Pandawa dan Kurawa menggunakan telik sandi atau agen rahasia dalam membaca manuver lawan masing-masing. Pandawa juga mengetahui rencana Durna untuk menculik Puntadewa, sehingga bersiap-siap untuk mengatasi tindakan tersebut.  Sedangkan rencana Pandawa menggunakan Srikandi mendampingi Arjuna juga sudah dibaca Duryudana sehingga memerintahkan pasukan khusus untuk melindungi Resi Bisma. Sebaliknya manuver Kurawa sudah dibaca terlebih dahulu oleh Pandawa yang mempunyai pasukan lebih kecil. Bukan suatu kebetulan bahwa adanya konflik antar para pemimpin pasukan Astina dimanfaatkan baik-baik oleh kubu Amarta. 

Penggunaan agen rahasia atau mata-mata dalam peperangan merupakan hal yang biasa. Tidak terkecuali dalam bisnis, sehingga kemudian dikenal dengan nama inteligent marketing. Kata inteligent dalam bahasa Inggris sebenarnya bukan mengacu pada konsep ” mata-mata ”. Kata ini mengacu pada konsep mengetahui sesuatu yang orang lain tidak mengetahui atau mengetahui sesuatu secara benar. Melalui intelijen diketahui tindakan yang harus dilakukan. Supaya operasi intelijen bisa dilakukan dengan tepat maka caranya melakukan secara rahasia atau dengan pelaku yang tidak bisa dikenali. Agak berbeda antara intelijen yang dikategorikan dengan spionase dengan inteligent marketing pada dunia bisnis. Pada spionase ada beberapa prinsip etika dilanggar. Sedangkan pada inteligent marketing masih dianggap mengutamakan etika. Cara-cara memperoleh juga bukan dengan cara penipuan melainkan didasarkan survei dan analisis bisnis. Inteligent marketing bisa berbentuk penelitian bisnis mengenai kebutuhan atau keinginan riil pelanggan atau mengetahui ketidakpuasan pelanggan pada perusahaan lawan. Cara yang lebih mendalam lagi adalah dengan menggunakan penelitian etnografi yang bertujuan mengetahui keinginan dan kebutuhan pelanggan tidak hanya dari psikografi saja tetapi dari sisi personal.

Namun juga tidak sedikit yang menggunakan cara pembelotan atau meminta informasi dari orang dalam mengenai perusahaan mereka. Ujung-ujungnya mereka kemudian membelot atau setidak-tidaknya menjadi informan lawan. Dengan berbagai janji atau imbalan, karyawan perusahaan tersebut menjadi lawan bagi perusahaannya. Hal ini penting bagi perusahaan tersebut agar mampu berkompetisi dan memenangkannya. Para pembelot ini sangat menguntungkan pihak lawan karena selain mereka mendapatkan informasi maka mereka bisa dibantu dalam kompetisi tersebut.

Penggunaan Wanita Cantik
Pada masa perang Dunia I, dikenal ada nama Matahari seorang wanita cantik yang menjadi mata-mata Jerman. Para mata-mata ini dalam kenyataan merupakan orang yang tidak dikenal namun juga bisa orang yang terkenal. Pada Bharata Yudha, mata-mata atau telik sandi masing masing pihak adalah orang orang biasa. Mengapa demikian karena perang ini merupakan perang tanding bukan perang terbuka.

Apa yang bisa dilakukan oleh mata-mata pada prinsipnya ada 2 (hal). Pertama informasi berharga bisa diperoleh dengan cara tersembunyi karena secara terang-terangan tidak akan didapatkan. Kedua memberikan informasi atau keterangan palsu yang membuat keputusan manajemen menjadi salah. Mata-mata jenis ini biasanya orang yang menjadi kepercayaan, informasi mereka ini biasa diterima dengan baik.

Dari mana mata-mata diperoleh ? Mata-mata adalah orang sendiri yang disusupkan ke pihak lawan. Adapula mata-mata adalah orang lawan yang menyeberang atau berpihak pada musuh. Paling berbahaya adalah mata-mata masuk dalam orang-orang yang bisa dipercaya. Kegagalan Kurawa membunuh Pandawa dalam peristiwa Bale Sigala-gala karena Widura mengetahui rencana busuk membakar gedung tersebut. Widura kemudian menyiapkan rencana dengan membangun terowongan yang akan menyelamatkan Pandawa bila istana tersebut dibakar. Dengan demikian ada kontra intelijen Pandawa dan Kurawa. Tindakan Widura ini sama sekali tidak diduga Kurawa sehingga gagallah rencana tersebut.

Pedagang Sebagai Mata-mata
Sebelum Perang Dunia II, di Hindia Belanda mulai berdatangan orang-orang Jepang untuk memulai bisnis. Banyak di antara mereka yang membuka toko-toko kelontong, dan tidak ada yang curiga terhadap kehadiran mereka. Padahal mereka ini adalah mata-mata. Setelah Jepang masuk baru hal tersebut terungkap tugas mereka melakukan pencarian informasi mengenai kekuatan pasukan Hindia Belanda. Serangan Jepang ke Hindia Belanda tidak berlangsung lama tidak seperti diperkirakan bahwa dengan mudah orang-orang Belanda ini segera menyerah.

Siasat menggunakan mata-mata dengan kedok pedagang juga sering dijumpai hingga sekarang ini. Para pedagang dimanfaatkan negara asal mereka menjadi mata-mata. Kebanyakan gerak-gerik mata-mata ini tidak mencurigakan karena mereka tampil seperti layaknya pebisnis. Hal ini terjadi pada masa Perang Dingin maupun sekarang. Agen rahasia dalam cerita fiktif seperti James Bond tidak sepenuhnya khayalan, mereka ini bisa tampil dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang memalukan terjadi ketika terungkap Cina menggunakan orang-orangnya melakukan mata-mata di Amerika Serikat. Atau skandal yang menimpa salah seorang pejabat Inggris karena mata-mata.


Penjualan Informasi Pada Pihak Yang Membutuhkan
Jenis mata-mata yang lain adalah penjualan informasi yang bersifat privat pada pihak lain yang membutuhkan. Kita sering ditawari kartu kredit atau lainnya oleh seseorang yang nampak sangat mengenal kita. Tiba-tiba telpon rumah atau handphone berdering memberikan informasi bahwa kita mendapat undian X. Banyak masyarakat yang tertipu dengan informasi yang sangat menyakinkan kemudian berani membayar sejumlah uang atau menjadi anggota suatu fasilitas layanan perbankan.  Mengapa demikian ? Orang tersebut telah memegang informasi mengenai kita. Pada masa sekarang ini, keterbukaan informasi sering disalahgunakan orang-orang yang mau memanfaatkan peluang tersebut. Sebenarnya ada kode etik untuk tidak menjual informasi rahasia. Namun hal ini tidak bisa dihindarkan. Jalan satu-satunya adalah bersifat kritis dan tidak mudah terpancing dengan seseorang yang tiba-tiba sangat mengenal kita, barangkali orang tersebut sudah mencuri informasi dari yang lain.

Sumber informasi ini adalah data pelanggan yang diperoleh dari suatu perusahaan yang berhasil mengumpulkan data tersebut. Data tersebut sebenarnya rahasia atau tidak boleh jatuh ke pihak lain, namun karena berharga sehingga oleh seseorang yang menguasai akses informasi tersebut maka dijual pada pihak yang membutuhkan. Orang-orang seperti ini termasuk dalam kategori mata-mata.
Previous
Next Post »